Baca Juga: Bertopeng di Bulan Ramadan
Kedua sosok itu adalah sosok dengan figur yang kuat, cepat mengambil keputusan, berani mengambil resiko, komunikasinya juga to the point, dan punya dukungan politik yang kuat dari partai politik.
Berdasarkan realitas ini, Jokowi di periode keduanya tidak memiliki partner lagi. Sosok Maruf Amin, tak bisa menggantikan figur Jusuf Kalla maupun Ahok. Padahal, Jokowi hanya sosok saja bukan tokoh politik, tidak memiliki massa, dan pengaruh politik juga lemah. Ia juga bukan sosok yang tegas, persepsi dirinya ketika berhadapan dengan lawan-lawan politiknya juga tidak kuat apalagi tegas, bahkan Presiden Jokowi bukan sosok yang berani mengambil resiko.
Jokowi amat terlihat ambisi dirinya yang ingin kerja, kerja, dan kerja saja, dalam menjalankan program. Jokowi hanya sosok masyarakat biasa yang ingin sukses, bukan politisi dari kalangan elite.
Oleh sebab itu, kini, Luhut yang diberikan peran dan kepercayaan tersebut. Luhut bukan orang kemarin sore yang dikenal oleh Presiden Jokowi, mereka sudah di atas dekade pertemanannya. Luhut juga sudah terbukti sukses mengemban berbagai tugas yang diamanatkan kepadanya, seperti Luhut punya pengaruh politik kepada Partai Golkar seperti periode awal pemerintahan Jokowi dengan bergabungnya Golkar dan terpilihnya Setya Novanto juga karena peran besar Luhut.
