Prof Aris berujar “sebaik-baik iman bagi seorang guru adalah mereka yang berinovasi dan kreatif untuk mengembangkan pembelajarannya.” Quote ini bagi saya begitu dalam. Akan tetapi, bukan berarti guru yang tidak berinovasi kemudian dianggap kurang baik imannya apalagi tidak beriman secara ideologis, bukan.

Namun, guru kreatif dan inovatif adalah kunci yang dibutuhkan untuk menerjemahkan konsep merdeka belajar. Tanpa itu semua, saya rasa agak berat bahkan mustahil.  

Guru juga tak perlu terjebak oleh dokumen pembelajaran bersifat administratif. Faktanya, selama ini banyak di antara guru “terpaksa” atau tepatnya dipaksa membuat administrasi pembelajaran yang tebalnya cukup lumayan.

Baca juga: Lumbung Pangan Nasional, Solusi Praktis Ala Kapitalis

Konon, itu menjadi salah satu syarat mutlak guru profesional. Paradigma lama seperti ini berlangsung turun temurun. Akibatnya, para guru menjadi kehilangan kesempatan untuk mengeksplorasi pembelajaran yang menggembirakan hati para peserta didik. Ia lebih concern mengurusi kertas berhelai-helai daripada membuka lembaran hati dan pikiran peserta didik melalui pembelajaran yang menyenangkan.