Jika melihat lebih dalam lagi, tindakan memberikan skorsing 19 hari, rasanya kurang tepat jika hal tersebut diberikan untuk memperbaiki perilaku mereka. Sebab, bukan hanya perilaku saja yang perlu diperbaiki, melainkan cara berpikir dan sistem pendidikan yang membentuk karakter mereka. Harus ada perubahan yang membenahi masalah hingga ke akar sistemnya.
Baca Juga: Agar Tergali Kadar Intelektual: Pengalaman Wartawan Senior
Yang kita saksikan, penerapan sistem pendidikan hari ini cenderung menekankan aspek akademik tanpa melibatkan pemahaman aqidah yang benar alias sekuler. Akibatnya, siswa lebih mementingkan “viralitas” dan “keren-kerenan” di mata teman sebaya daripada menjaga martabat guru sebagai figure pendidik.
Inilah fakta penerapan sistem pendidikan dalam bingkai paham kapitalisme. Pendidikan hanya berorientasi pada materi. Pendidikan masih dianggap sebagai penopang ekonomi dan jembatan untuk kesejahteraan. Ini terlihat dari tujuan pendidikan yang harusnya menjadi hak asasi bagi setiap individu bergeser menjadi komoditas yang hanya mampu diakses oleh sebagian masyarakat.
Lalu output generasi fokus mencetak tenaga ahli yang dibutuhkan, bermindset materialistik, krisis kepemimpinan, individualis, hedonis, apatis, dan justru semakin jauh dari kepribadian Islam.
