Di saat yang sama, kita tengah berada dalam situasi krisis pandemi COVID-19. Sekaligus juga bahwa kita tahu pandemi ini menggantungkan hidupnya pada mobilitas publik yang tidak terjaga dan terkontrol dengan baik, maka virus ini akan dengan mudah berpindah dan menjangkit lebih banyak manusia.
Namun pengetahuan ini, tidak menuntun sebagian besar masyarakat kita yang ingin berbelanja lebaran. Apa memang karena virus ini tak kasat mata maka tidak nampak kekhawatiran terhadapnya? Atau ruang sosial kita yang jenuh dan mulai membertintak melalui ketidakpedulian?
Baca juga: COVID-19 dan Isi Perut
Kita dapat mengamati bahwa pemerintah kini resah, tidak mungkin bisa melakukan kontrol yang super ketat terhadap situasi publik. Himbauan hingga ancaman pidana tidak begitu efektif menggeser kegiatan publik menjelang lebaran.
Perlu ada jalan keluar yang tidak berpotensi melukai euforia masyarakat menjelang lebaran, sekaligus tetap menginginkan kontrol penuh terhadap penanganan penyebaran COVID-19 di masyarakat. Pilihan narasi berdamai dengan virus diambil, hal ini juga termasuk upaya menyusun rencana the normal life pasca pandemi ini. Tapi ini tidak mudah.
