Baca juga: Kembalinya Pendidikan Keluarga di Tengah Pandemi COVID-19
Dalam kajian ilmu sosial, situasi ini adalah bentuk kesedihan yang dibentuk oleh situasi. Hal ini sudah diprediksi oleh Elisabeth Kübler-Ross pada tahun 1969 yang menggambarkan lima tahap kesedihan yang populer digunakan untuk menilai bentuk kesedihan publik masa pandemi covid 19. Lima tahap ini berjalan secara linear yakni melalui penolakan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan yang terbentuk sebagai kerangka pembelajaran kita sebagai manusia pada kesedihan.
Pada awal pandemi ini, masyarakat bahkan pemerintah seringkali melakukan penolakan terhadap situasi virus covid 19 ini. Mulai dari apa yang kita makan tidak cocok sama korona, cuaca kita membuat virus mati, hingga hanya dengan doa saja bisa menghindarkan kita dari virus ini.
Namun, nyatanya virus ini tetap menjangkiti masyarakat kita lalu kini membuat publik masuk pada fase kemarahan. Dalam kemarahan ini, publik mencari-cari kondisi mana yang bisa dijadikan sasaran untuk ditujukan kesalahan, dan paling banyak adalah pada kesiapan pemerintah.
Fase selanjutnya, publik mulai melakukan tawar-menawar dengan situasi. Saat ini terjadi, banyak hal yang terjadi salah satunya penerimaan kita terhadap berita bahwa makan telur saat tengah malam dapat mencegah kita dari virus. Kini, fase depresi mulai dirasakan oleh masyarakat kita. Makanya, tidak mengherankan reaksi publik yang acuh tak acuh terhadap protokol yang diberikan pemerintah menjadi ramai di perbincangkan di media sosial.
