Dalam kehidupan sehari-hari Jazir pun dituntut untuk selalu peka. Dari sana, kepekaan atas situasi sekitar muncul. Kepekaan itulah yang jadi penuntun Jazir dalam memetakan kebutuhan masyarakat dan diubah jadi kewajiban Masjid Jogokariyan.

Baca juga: Masjid Syuhada, Mengenang Pahlawan yang Gugur dalam Pertempuran Kotabaru

"Kewajiban sebagai pusat peradaban," tandas Jazir

Masyarakat, dikatakan Jazir, memang menjadi titik tujuan utama atas apapun yang akan dilakukan Masjid Jogokariyan.

Meminjam petuah Ki Hadjar Dewantara, Masjid Jogokariyan dibuat mampu mengambil tiga peran pendidikan. Yaitu, ing ngarso sung tulodo (di depan memberi contoh), ing madyo mangun karso (di tengah memberi semangat) dan tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan) kepada masyarakat.