Baca Juga: Perjuangan Ibu Made, Manfaatkan Cuaca Panas di Kendari dengan Jualan Es Buah
Tak ada lokasi untuk menjual, tampak ia duduk di atas bentangan terpal kecil untuk menyimpan semua dagangannya. Tidak banyak yang Ia jual, hanya tomat, cabai, jeruk, kunyit, bawang putih dan jahe. Ia tak menjual sayur karena menurutnya ia bisa rugi bila sayurannya tak laku.
"Saya pernah jual sayuran tapi karena sering tidak laku, jadi sering dibuang, kasihan banyak ruginya," ucapnya dengan nada pasrah.
Demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah, ia rela duduk hingga malam hari pukul 20:00 Wita. Meski tak banyak pembeli, namun ia tetap bertahan. Rumah yang jauh dari tempatnya berdagang, tidak membuatnya menyerah. Ia datang di pasar diantar oleh anak semata wayangnya dengan membopong dagangannya.
"Saya kesini diantar anakku, rumahku di Punggolaka. Mau diapa karena disini tidak dibayar juga," tuturnya.
