Praktik pengawasan di lapangan pun menegaskan bekerjanya "pandangan kolonial" (the colonial gaze) yang merutinkan penghinaan fisik terhadap ras tertentu. Hal ini terlihat gamblang ketika skuad tim nasional Senegal dan Uzbekistan dipaksa menjalani pemeriksaan keamanan menyeluruh di bawah kawalan anjing pelacak di landasan pacu bandara terbuka, sebuah perlakuan subordinatif yang tidak pernah dialami oleh tim-tim dari Eropa.
Tindakan ini menurut Pierre Bourdieu (2025) merupakan bentuk kekerasan simbolik yang dilegalkan atas nama keamanan nasional. Barat, seperti yang diamati Edward Said (1978) dalam Orientalism, secara konsisten mengonstruksi dirinya sebagai entitas yang konstitutif tidak mampu melakukan tindakan barbar, sehingga setiap prosedur pemeriksaan yang merendahkan martabat atlet Global South selalu dilunakkan dengan eufemisme prosedural.
Ironisnya, dominasi sistemik ini bertahan bukan hanya karena pemaksaan dari atas, melainkan akibat keheningan kolektif dari para korban yang telah menginternalisasi hegemoni tersebut. Kegagalan federasi sepak bola internasional (seperti CAF dan AFC) untuk mengajukan protes resmi atas pengusiran anggotanya atau pemaksaan timnas Iran bertransit melintasi perbatasan Tijuana menunjukkan bekerjanya pengawasan diri (self-surveillance) ala panoptikon.
Mengacu pada kerangka teoretis Gayatri Chakravorty Spivak (1988) "Can the Subaltern Speak?", kaum subaltern dalam lanskap sepak bola global tahun 2026 ini bukan lagi sekadar tidak dapat bersuara, tetapi telah mengalami pengondisian epistemik yang membuat mereka melupakan bahwa berbicara, menggugat, dan menolak penindasan dari metropol adalah sebuah pilihan.
Baca Juga: Tobat Ekologis: Jalan Panjang Rehabilitasi Hutan Pasca Deforestasi
