"Mulai dari perlakuan biji basah saat tiba dari petani, kebersihan biji, perlakuan saat fermentasi dan pengeringan, sampai pada proses penyimpanan di gudang. Harganya pun jauh lebih bagus dibanding biji kakao kering non fermentasi," bebernya.

Kemudian proses ke dua, yakni proses pengolahan dari biji kakao kering  menjadi coklat padat seperti Silverqueen.

"Untuk tahap ini, kapasitas pabrik sekitar 30 sampai 70 kilogram coklat padat. Kalau kerjanya sampai lembur (begadang) mungkin produksinya bisa sampai 100 kilogram per hari," jelasnya.

Selanjutnya proses ke tiga, yakni proses pengolahan dari biji kakao kering menjadi coklat bubuk dengan kapasitas produksi 200 kilogram bubuk per hari

Baca juga: Besaran Zakat Fitrah di Konawe Tahun Ini Menurun