Dalam perspektif sufistik, alam bukan benda mati. Alam adalah ayat-ayat Tuhan yang hidup. Hutan yang hijau adalah tasbih. Sungai yang mengalir adalah dzikir. Angin yang bergerak adalah pujian kosmik kepada Sang Pencipta.

Al-Qur’an menyatakan: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya.” (QS. Al-Isra’: 44)

Ayat ini menghadirkan kesadaran bahwa seluruh semesta memiliki spiritualitasnya sendiri. Maka merusak alam bukan hanya tindakan ekologis yang salah, tetapi juga bentuk pemutusan hubungan spiritual antara manusia dan kosmos.

Baca Juga: Habis Gelap Terbitlah Terang: Spirit Hijrah Menuju Perubahan

Krisis lingkungan Papua pada akhirnya bukan sekadar persoalan tambang, deforestasi, atau tanah ulayat. Ia adalah gejala dari krisis yang lebih dalam: krisis kesadaran manusia modern. Manusia merasa menjadi pusat semesta, lalu memposisikan alam hanya sebagai objek eksploitasi. Dari sinilah lahir kerakusan yang tidak pernah selesai.