"Saya tetap bertahan di sini karena tidak ada uang sewa kios. Kalau ada sewa, mungkin tempat ini sudah lama ditinggalkan para pedagang," ungkap Sahar.
Pedagang lainnya, Ram (40), yang menjual kelontong dan perabot rumah tangga, menilai bahwa sepinya pasar disebabkan oleh keberadaan pasar-pasar ilegal di pinggir jalan Kota Kendari.
Selain itu, perubahan gaya belanja masyarakat yang kini lebih memilih berbelanja secara online juga menjadi faktor utama.
"Pemerintah sering datang ke sini, terutama sebelum pemilu kemarin, tapi tidak ada solusi yang pasti. Kami butuh kebijakan yang bisa menghidupkan pasar ini kembali," keluh Ram.
