“Kendatipun temuan tersebut ada di Dapil 10 Siantar-Simalungun, kami menyakini bahwa persoalan pupuk langka dan mahal juga terjadi di daerah lain, di Provinsi Sumatera Utara, sehingga persoalan ini menjadi persoalan bersama yang harus segera dicari solusinya oleh pemerintah daerah dan pusat dengan melibatkan anggota DPR RI," kata Mangapul, politisi dari PDI Perjuangan.
Kemudian, Mangapul menyampaikan, harga pupuk konvensional yang ada beredar ditengah masyarakat harganya lebih mahal 150 persen dari harga seharusnya.
Sementara itu pupuk bersubsidi yang juga langka, harganya sudah di atas rata-rata harga tertinggi yang ditetapkan oleh pemerintah.
Baca Juga: Polisi Bongkar Home Industri Pil Inex, Pelaku Ditangkap Disaksikan Istrinya
"Misalnya harga pupuk bersubsidi Rp 50 ribu, harga non subsidi bisa lebih mahal sebesar 150 persen. Jadi bagaimana petani bisa menikmati hasil panen jika harga pupuknya mahal. Dampak mahalnya harga pupuk ini, terkena juga untuk seluruh petani baik petani padi, palawija mupun petani holtikultural lainnya," ungkap Mangapul.
