Di arena olahraga global, organisasi internasional (IFs) seperti IOC dan FIFA sering kali mendengungkan jargon untuk "menjauhkan politik dari olahraga" atas nama netralitas, namun di saat yang sama mereka bertindak sebagai aktor politik yang sangat kuat dengan pengaruh global yang setara dengan pemimpin negara besar.
Paradoks ini terlihat jelas dalam "Krisis Eksistensi" yang dihadapi oleh Federasi Sepak Bola Palestina dan Israel terkait dugaan pelanggaran hukum internasional, di mana Presiden FIFA Gianni Infantino bersikeras menekankan sikap netral organisasinya, namun di sisi lain FIFA tidak ragu mendukung wacana politis seperti pencalonan bersama tuan rumah Piala Dunia 2030 oleh Israel dan Uni Emirat Arab (UEA).
Kasus ini menjadi bukti nyata bahwa seruan untuk "menjaga netralitas" itu sendiri sering kali merupakan tindakan politis yang digunakan sebagai alat retoris untuk memperkuat, memaksakan, atau menyembunyikan narasi politik dan ekonomi tertentu di balik kemegahan industri olahraga.
Baca Juga: Refleksi 74 Tahun Perjuangan Rakyat Buton Menuju Provinsi Otonom
Pada akhirnya, kontroversi "peluit Timur Tengah" pada laga-laga krusial seperti Bahrain melawan Indonesia harus diletakkan sebagai cermin retak dari krisis eksistensial dan labirin ketidakpercayaan yang sedang melanda ekosistem sepak bola Asia.
