Baca Juga: Indonesia Darurat Kekerasan Seksual pada Anak
Digitalisasi dalam paradigma kapitalisme sangat rentan menyibukkan para pemuda untuk sekadar mengejar kepentingan materi hingga melupakan potensi hakiki mereka, yakni potensi intelektual sebagai generasi. Tata kelola yang serba kapitalistik hanya akan membajak potensi berharga pada diri pemuda. Pengarusan ide-ide sekuler dan liberal melalui digitalisasi pun sangat berpotensi mengikis—bahkan menghilangkan—identitas para pemuda muslim. Promosi ide-ide kebebasan dan gaya hidup hedonis begitu mudah kita dapati melalui arus digitalisasi.
Kondisi ini harus ada perubahan mendasar dan menyeluruh agar memberikan dampak yang signifikan. Karena selama ini, kebijakan yang dikeluarkan pemerintah justru menjadi boomerang bagi pendidikan generasi itu sendiri. Kerjasama dari orang tua selaku pendidikan pertama di rumah harus semakin dikuatkan dengan pondasi agama. Pihak sekolah juga wajib memberikan penjagaan terhadap digitalisasi anak didiknya. Dan yang paling utama, negara wajib memberikan tayangan yang mendidik, memfilter berbagai tayangan porno dan kekerasan yang beredar di dunia maya.
Selain membangun pemahaman orang tua terhadap aspek teknis pendampingan anak di era digital, hal yang paling mendasar pula adalah membentuk kesadaran orang tua agar mendidik anak dengan landasan aqidah agama yang kuat dan kewajiban terikat pada hukum syariat. Sebab perkembangan teknologi adalah sesuatu yang harus dihadapi oleh keluarga saat ini, sehingga butuh ketahanan yang kokoh untuk membentengi keluarga dari berbagai dampak yang ditimbulkan.
Perkembangan teknologi yang berdampak pada keluarga saat ini juga tidak lepas dari kurangnya perhatian negara. Penggunaan gadget pada anak sepenuhnya diberikan pada keputusan orang tua. Padahal negara seharusnya wajib mengatur tentang hal tersebut, sebab dampak negatif yang ditimbulkan meluas pada sejumlah aspek seperti psikologi/mental, komunikasi, kesehatan, budaya, kebiasaan, sampai pada penyimpangan perilaku, kriminalitas, pornografi, kekerasan, dan lain-lain. Seharusnya para intelektual berpikir komprehensif, memandang isu gadget bukan lagi pada ranah personal namun telah menjadi persoalan sosial yang dampaknya semakin memprihatinkan.
