Kasus deepfake porn ini tidak hanya menargetkan Tasya, tetapi juga sejumlah jaksa, ASN, dan dokter. Mereka menjadi korban kejahatan digital yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan untuk memanipulasi wajah dan menyebarkan informasi palsu.
Tasya menyebut kejahatan semacam ini mulai berkembang di Korea Selatan dan kini menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
“Modus begini ikut-ikut di Korea menurut saya. Semoga tidak ada korbannya lagi. Takutnya kalau ada yang kena begini, apalagi mentalnya, bisa-bisa terjadi hal yang tidak diinginkan,” tuturnya.
Menjelang pernikahannya, Tasya harus menghadapi tekanan besar akibat pencatutan namanya dalam video asusila. Ia mengaku syok dan merasa reputasinya hancur akibat kejadian ini.
“Betul Kak, jahat sekali pelakunya. Foto saya yang pakai baju tertutup dibuatnya tanpa baju,” ungkap Tasya.
