Dalam kajian gender, kondisi tersebut dikenal sebagai double bind, yakni situasi ketika perempuan menghadapi dua tuntutan yang saling bertentangan. Di satu sisi mereka dituntut kompeten, tegas, dan mampu memimpin, tetapi di sisi lain harus tetap terlihat lembut, hangat, dan tidak mengintimidasi.

Fitri menilai tren tradwife dan feminine energy muncul sebagai respons terhadap kelelahan akibat budaya kerja modern yang kompetitif.

Namun, sebagian konten dinilai justru mengalihkan fokus dari kritik terhadap sistem kerja yang tidak ramah perempuan menjadi kritik terhadap perempuan yang memilih berkarier.

Ia menyebut fenomena tersebut sebagai bentuk neo-ibuisme digital", yakni kondisi ketika perempuan tetap diperbolehkan bekerja dan hadir di ruang publik, tetapi nilai mereka masih diukur berdasarkan kemampuan memenuhi standar domestik tertentu.

Menurutnya, konsep tersebut memiliki kemiripan dengan ideologi ibuisme negara pada era Orde Baru yang menempatkan perempuan terutama sebagai pendamping suami dan pengurus rumah tangga.