Siti mengaku, meskipun pekerjaannya sering dianggap rendah oleh sebagian orang, ia tidak pernah merasa malu.

"Saya tahu pekerjaan ini bukan pekerjaan yang orang lain inginkan. Tapi saya tidak bisa memilih. Kalau saya tidak bekerja, bagaimana saya bisa makan? Bagaimana saya bisa membayar kebutuhan hidup sehari-hari?" ujarnya, wajahnya penuh keteguhan meski matanya tampak sayu dan lelah.

Siti tak sendiri. Di sepanjang jalan yang ia lalui, banyak pemulung lain yang menjalani kehidupan serupa, meskipun dengan berbagai latar belakang dan kisah hidup yang berbeda.

Baca Juga: Kisah Hidup Pemulung di Kendari Cari Nafkah untuk Keluarga

Namun, Siti tetap menjadi sosok yang mencuri perhatian, karena semangatnya untuk terus bekerja tak pernah padam, meskipun usianya sudah lanjut.