“Jadi tujuan dan inti dari healing itu penyembuhan diri, kalau memang liburan bisa jadi sarana untuk menyembuhkan diri baru bisa disebut healing,” jelasnya.
“Namun sekarang banyak juga muncul excuse (dalih) liburan, atau shopping (berbelanja) dengan boros, yang ditutupi dengan kedok healing. Padahal (healing) bukan seperti itu,” sambungnya.
Sementara itu, Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Galang Lufityanto juga mengakui bahwa konsep healing sering dimaknai dengan liburan atau staycation.
"Healing itu proses membuat psikologis kita jadi sehat lagi atau proses menyembuhkan, mengobati diri secara psikologis," kata Galang dikutip dari Liputan6.com.
"Cari dulu masalahnya apa, baru healing. Misalnya karena ada masalah dengan rekan kerja atau atasan maka healing dengan liburan atau staycation jadi tidak cocok. Ini malah seperti melarikan diri," Galang menuturkan.
