Terlebih jika kita lebih jauh melihat tapak-tapak yang dilaluinya. Lahir dalam keterbatasan bukanlah pilihan. Dua bulan setelah ia menghirup udara bumi, bapaknya meninggal. Bukanlah sesuatu yang mudah menghadapi kehidupan dalam kondisi seperti itu. Manusia di bumi tak semuanya mengerti hakikat hidup, sinis, kejahilan, cemooh tanpa belas kasih, kerap harus ditelannya tanpa bisa membalas.
Dalam keterbatasan itu ia tak pernah surut. Tekadnya telah terlatih dengan gempur ombak besar yang berjejal dalam perjalanan dari Tampara, Pulau Kaledupa, Wakatobi menuju Kendari.
Kelulusannya di UM Kendari seakan menjadi bukti ketangguhannya. Selama empat tahun lebih menjalani kuliah, seperti mahasiswa umumnya.
Baca juga: Corona Merampas Impian Gadis itu ke Negeri Sakura
Menanjaki puluhan anak tangga di kampus akhlakul karimah itu, untuk mengurus administrasi perkuliahan di lantai tiga. Tidak hanya sekali atau dua kali, tapi berpuluh-puluh kali.
