Turnamen ini secara gamblang mempertontonkan bagaimana sepak bola dipaksa berlutut di hadapan kepentingan modal dan kontrol geopolitik. Gejala tersebut bahkan telah nyata sejak peluit pertama belum dibunyikan, dimulai dari komodifikasi birokrasi melalui kebijakan visa. Tuan rumah gencar memamerkan narasi "pesta inklusif dunia", namun sistem imigrasi mereka justru bertindak sebagai filter ideologis dan ekonomi yang diskriminatif.
Ribuan suporter dari negara berkembang di Afrika, Asia, dan Amerika Latin harus menelan kekecewaan setelah permohonan visa mereka ditolak secara sepihak tanpa transparansi. Sementara itu, biaya aplikasi yang hangus menguap begitu saja ke dalam kas birokrasi. Ini bukan sekadar masalah administrasi, melainkan penegasan hegemoni bahwa tuan rumah Amerika memegang kendali atas siapa yang berhak merayakan sepak bola secara langsung.
Baca Juga: Harga 'Maroko' dan Drama Pengkhianatan Jersey di Pasar Ikan
Bagi suporter yang cukup beruntung melintasi batas negara, mereka justru dihadapkan pada eksploitasi ekonomi melalui skandal harga tiket. FIFA dan komite lokal secara agresif menerapkan sistem legalisasi pasar sekunder (dynamic pricing) yang membuat harga tiket melambung ke tingkat yang tidak masuk akal.
Akibatnya, terjadi penggusuran demografis di dalam stadion. Tribun yang dulunya riuh oleh kultus suporter fanatik dari kelas pekerja kini digantikan oleh deretan penonton elite korporat dan turis berswafoto. Industri ini sedang memakan habis kecintaan konsumen loyalnya sendiri demi memeras profit maksimal.
