Konstituen terbelah dan terbagi dalam berbagai kelompok "mazhab politik". Bagi pemilih rasional-obyektif, mereka tidak terlalu terpengaruh oleh hiruk pikuk bursa bacalon pasangan kada, yang dengan berbagai cara dan taktik masing-masing kubu, rela dan tega untuk saling hujat, saling klaim, dan saling menyudutkan.
Baca juga: Gedung Kejagung Terbakar, Kasus Besar Apa Kabar?
Warna warni yang terpapar fulgar di depan mata dan telinga masyarakat, begitu juga lontaran-lontaran keyakinan absurd yang memastikan sesuatu yang masih rahasia ketentuan Almulk.
Di antara segelintir masyarakat, mereka sangat berharap agar pilkada serentak 2020 dapat berproses dengan nuansa santun, beradab, jujur, dan elegan agar nilai luhur ke-Indonesia-an kita tetap terpatri dan terawat di sanubari ibu pertiwi NKRI. Bukankah kualitas proses berkorelasi kuat dengan kualitas hasil?
Endapkan kesadaran, latih nurani agar menjadi pedoman handal pada tanggung jawab pilihan kita masing-masing. Jadikan pilihan kita menjadi pilihan jiwa yang bebas oleh pengaruh kepentingan sesaat yang cenderung transaksional yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan pengadilan kadi Rabbun Jalil, sebab menentukan pilihan pada keterpilihan pemimpin tidak hanya berdimensi duniawi dengan prinsip "menang-kalah", tetapi juga berdimensi akhirat dengan panduan "benar-salah".
