Jika dipelajari seksama, upaya Partai Nasdem yang menginisiasi blok politik dengan Partai Gerindra harus diakui adalah manuver yang tidak mudah diikuti partai-partai lain. Sebab, partai-partai politik lain memiliki daya tawar politik yang berbeda dan enggan dicap sebagai pengekor, maka strategi blok politik bakal dihindari oleh mereka.

Sebab, jika partai lain ingin meniru strategi politik Partai Nasdem maka partai politik itu bakal memperoleh sentimen negatif dengan dianggap pragmatis dan kehilangan independensinya. Contohnya, Partai Golkar yang menduduki peringkat kedua pada Pemilu diprediksi tak mau terjebak strategi Nasdem. Sebab, akan membuat partai berlambang pohon beringin itu terkesan sebagai partai lemah dan haus kekuasaan (owrite.id, 16 April 2026).

Jika blok politik dibangun bersama-sama dengan banyak partai lain yang berada di pemerintahan, maka yang terjadi adalah koalisi sebelum Pemilu. Koalisi sebelum Pemilu 2029, tentu saja dinilai konyol, karena partai-partai lainnya sudah tergabung di  pemerintahan dengan format Koalisi Indonesia Maju (KIM).

Baca Juga: Presiden Prabowo Micromanajer yang Tidak Efektif

Artinya, jika ada upaya membangun koalisi sebelum pemilu dengan banyak partai di pemerintahan, maka bisa dicurigai akan adanya format “mengakali” Pemilu 2029, misal dengan narasi pasangan calon tunggal atau aklamasi alias satu calon saja dalam kontestasi lima tahunan tersebut. Ini tentu saja berbahaya bagi citra Prabowo sebagai Presiden, jika Pemilu 2029 sudah dilakukan upaya rekayasa politik.