Baca juga: Bermain dalam Pesta Demokrasi

Seperti inilah biasanya nasib partai politik yang menentukan pilihan di masa injury time, di mana yang kadang terjadi adanya dukungan ganda partai politik, partai politik yang akhirnya tidak memiliki calon (lari kosong), dan partai politik yang punya calon tapi sebenarnya bukan orang yang tepat sesuai dengan ideologi partai sehingga ditinggalkan oleh kadernya.

Menetapkan calon bupati/wakil bupati di masa injury time, sebagai langkah partai yang sangat beresiko dan kadang salah dalam mengambil keputusan. Akhirnya yang terjadi partai salah dalam memilih calon bupati/wakil bupati karena pertimbangan waktu yang sempit dan pemikiran yang pragmatis, sehingga kadang ada calon yang sebenarnya menjadi pilihan masyarakat tapi hanya sebatas calon di baleho karena tidak memenuhi syarat untuk mendaftar di KPU karena dukungan partai politik yang kurang.

Akibatnya, pemilih dipaksa memilih calon pemimpin yang terburuk dari yang terburuk. Di sisi lain, sulitnya terjadi konsolidasi antara mesin politik dari keluarga dan Partai Politik untuk bersinergi dalam memenangkan calon karena sulit dalam komunikasi kedua pihak yang kadang berbeda dalam strategi.

Begitu juga, waktu untuk partai politik melakukan sosialisasi dalam memperkenalkan calon yang didukung kepada semua fungsionaris partai mulai dari tingkat elit sampai ke tingkat ranting akan terkendala oleh waktu yang singkat. Jika selama ini partai politik tetap amanah untuk memberikan pendidikan politik kepada masyarakat sebenarnya tidak perlu khawatir bagaimana pemilih akan mengenal para calon pemimpinnya padahal pendaftaran cakada di KPU akan dimulai awal September 2020.