Di masa lalu, negeri dan Bangsa Belanda adalah penjajah bangsa dan Tanah Airnya. Sekaligus juga negeri nostalgia Hatta. Di sanalah ia menamatkan kuliah ekonomi dan di sana pula tertanam kenangan perjuangan  untuk Indonesia Merdeka (Baca Dr. Deliar Noer, “Mohammad Hatta Hati Nurani Bangsa: 2012: 17 – 34)

Baca Juga: Menolak Premanisme, Mengadu kepada Rakyat

Bung Hatta beserta istri dan putri bungsunya juga ke Austria. Sekembali di Tanah Air, Bung Hatta segera minta sekretaris pribadinya, Pak Wangsa membuat surat pengembalian uang ke Sekretariat Negara (Setneg). Karena, memang ada kelebihan uang dari Negara. Kemudian, Pak Wangsa sendiri yang mengantarkannya. Tetapi, Bendahara Kepresidenan enggan menerimanya.

Pak Wangsa  pulang sambil bawa uang lebih tadi, melapor kepada Bung Hatta, “Bendahara Setneg bilang, uang yang sudah dikeluarkan adalah dianggap syah menjadi milik orang yang dibiayai, tidak usah dikembalikan. Uang itu adalah uang saku tambahan.”

Menerima laporan itu, Bung Hatta malah menegur Pak Wangsa, “Kebutuhan rombongan dan kebutuhan saya sudah tercukupi, jadi ini harus kembalikan.” Di mata Gemala, putri kedua Bung Hatta, “Dengan demikian,  prinsip Ayah adalah itu bukan uangku, kembalikan kepada Negara.”