‘’Kurang lebih 8 kali saya pernah mendatangi kawasan Matarombeo. Di sini saya datang bukan sebagai ilmuwan ataupun peneliti tetapi sebagai kesadaran manusia untuk melestarikan alam agar tetap terjaga untuk anak cucu kita di masa depan,’’ ungkapnya.
Ia juga menjelaskan, kawasan Matarombeo terbentang hutan luas yang di dalamnya terdapat sungai yang melewati gua. Di dinding gua terdapat banyak lukisan dan peninggalan tengkorak manusia purba. Sehingga ia sebagai explorer bersama komunitas teras mengadakan ekspedisi dalam rangka protected area.
Baca Juga: Kota Wuna, Jejak Sejarah Peradaban Muna
Mutmainah, Project Leader for Protected Area menambahkan, dalam projectnya ini akan dilaksanakan dengan estimasi 15 hari yang akan dimulai dari Kota Kendari melewati Kolaka Timur, Konawe dan Konawe Utara.
‘’Jadi kita ini istilahnya mau buka jalur dulu untuk melihat titik basecamp. Untuk kelanjutannya jika ada persetujuan dari pihak pemerintah, akan direncanakan ekspedisi ilmiah yang melibatkan ilmuwan atau arkeolog untuk melihat lebih lanjut penemuan yang ada di kawasan Matarombeo,” jelasnya.
