Banyak hal yang berubah. Jalanan sepi, kendaraan tidak begitu banyak yang lalu lalang. Demikian pula kondisi di pasar. Saya mendapati kenyataan transaksi yang cukup lesu. Tidak heran, mengapa penggalan-penggalan kalimat yang saya terakan di bagian pembuka artikel sederhana ini terasa lumayan mengganggu rasa kemanusiaan saya.
Awalnya saya berpikir situasi jual beli demikian hanya berlangsung satu dua hari. Dugaan saya meleset. Kenyataan yang sama menyedihkan saya temukan di pekan berikutnya ketika saya memutuskan membuktikan hipotesis saya. Teriakan-teriakan senada, panggilan penjual yang mengiba, tidak hanya direpetisi oleh para penjual sayur.
Mereka yang berdagang ikan, buah, dan kebutuhan pokok juga menyuarakan kegelisahan yang sama. Kondisi ini saya sadari sebagai imbas dari penyebaran pandemi yang tidak terkontrol. Orang-orang pasar lebih sering menyebutnya sebagai corona, virus yang mereka pahami sebagai satu-satunya hal menahan orang-orang berbelanja di pasar dan membuat pendapatan mereka menurun drastis.
Baca juga: Pilkada 2020, Pertarungan di Dunia Maya
Kita semua tidak bisa tidak mengakui betapa penyebaran pandemi COVID-19 menciptakan hantaman dahsyat tidak hanya pada aspek kesehatan dunia, melainkan juga pukulan telak di jantung ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, dan sebagainya. Pasar adalah tempat di mana nadi transaksi perdagangan mengalirkan denyut ekonomi dan perkara finansial masyarakat kelas bawah.
