Baca juga: Peluang UMKM pada Masa Pandemi COVID-19

Persepsi potulumi telah menjadi kelaziman dalam hidup saya. Di pasar, saya memiliki beberapa mosiraha, sebutan untuk langganan dalam bahasa Muna. Mosiraha merupakan terma pengejawantahan potulumi. Eksistensi mosiraha membantu konsumen mendapatkan barang dengan kualitas di atas rata-rata, dalam kondisi segar, tanpa perlu mengitari satu area pasar.

Bahkan, mosiraha tidak keberatan memberi potongan harga untuk pembeli tetapnya. Simbiosis ini tentu tidak hanya menguntungkan pembeli, melainkan berlaku secara mutualis karena juga membantu pihak penjual.

Memiliki mosiraha dalam sebuah pasar tentu menjadi sangat menyenangkan. Kegiatan berbelanja menjadi jauh lebih praktis. Selain memperoleh benefit yang lebih besar, relasi antara pedagang dan konsumen pun terjalin menjadi erat dan tidak mudah goyah. Namun demikian, makna mosiraha di tengah pandemi selanjutnya mengalami perluasan demi menyesuaikan kondisi di lapangan.

Dalam kenyataannya, mosiraha dalam lingkungan kecil antara dua pihak tidak bisa diteruskan karena akan memperlebar kesenjagan sosial diantara para penjual. Pada masa yang serba tidak jelas ini, mosiraha semie, bentuk mosiraha pada umumnya, sewajarnya beralih menjadi mosiraha nobari.