Kekhawatiran dan kegalauan ini juga dinyatakan dalam perilaku PKS dengan mengajak tokoh-tokoh seperti purnawirawan, akademisi, artis, hingga dari masyarakat yang berbeda agama untuk bergabung di PKS seperti sebagai dewan pakar.
PKS sudah lama menyatakan sebagai partai yang terbuka dengan beridentitas Islam sejak 2009 lalu. Tetapi PKS cenderung tetap memilih sebagai partai kader, tiba-tiba dengan mengajak berbagai sosok dari luar kader akan berkonsekuensi positif dan negatif.
Baca Juga: Relasi yang Menguntungkan
Positifnya PKS kian menjadi partai terbuka, tetapi negatifnya adalah kader-kader partai bisa menjadi eksodus menuju Partai Gelora. Partai Gelora dulunya memang faksi dari PKS, kehadiran partai itu karena perpecahan di internal PKS terkait asumsi cara pengelolaan partai yang tak sesuai lagi bagi mereka.
Potensi perpecahan ini akan terjadi kembali, malah dapat memburuk pada saat pencalonan anggota legislatif (pencalegan). PKS sebagai partai kader, umumnya caleg-calegnya bukan dari tokoh-tokoh instan, melainkan memang kader yang potensial, yang dipilih untuk maju sebagai legislator.
