Citra Buruk dan Kehilangan Arah PSI
Grace Natalie bersama Ade Armando sebelumnya dilaporkan ke Bareskrim Polri (Badan Reserse Kriminal Kepolisian Negara Republik Indonesia), oleh setidaknya 40 ormas Islam yang tergabung dalam Aliansi untuk Kerukunan Umat Beragama. Kedua elite PSI ini ditengarai melakukan penghasutan dan ujaran kebencian, buntut pernyataan mereka di sejumlah platform media sosial terkait ceramah JK di UGM beberapa waktu lalu.
Akibat pelaporan tersebut membuat Ade Armando memilih sikap mengundurkan diri sebagai kader PSI, dengan alasan tidak ingin kasus dirinya akan merembes terhadap PSI sebagai tempat dirinya berpolitik praktis. Berbeda dengan Grace Natalie, ia diumumkan oleh PSI bahwa tidak akan mendapatkan perlindungan hukum dari Partainya, karena pernyataan dan sikapnya bersifat personal bukan mengatasnamakan PSI.
Baca Juga: Menelisik Hubungan Jokowi dan PSI
Apa yang terjadi dengan PSI, menunjukkan bahwa PSI secara kelembagaan malah semakin kehilangan arah. PSI yang awal kehadirannya lebih mengedepankan gagasan baru yang menunjukkan sebagai partai modern, namun PSI semakin pragmatis ketika memilih Jokowi untuk dikultuskan seolah ia adalah ideologi partai. Kaesang, anak bungsu dari Jokowi, diberikan “karpet marah” yang tidak tercatat sebagai kader malah dijadikan Ketua Umum PSI, pilihan sikap ini agar PSI tidak punah dari daftar partai politik di Indonesia.
