Mengajar di ruang kelas pada bulan puasa bukan sekadar aktivitas akademik; ia juga bisa menjadi bentuk dakwah yang sunyi. Dakwah yang tidak selalu diiringi tepuk tangan, tidak selalu disambut antusias, tetapi tetap dijalankan dengan ketulusan. Seorang dosen yang tetap berdiri di depan kelas dengan kesungguhan, meskipun respon mahasiswa tidak terlalu hidup, sesungguhnya sedang mempraktikkan nilai inti dari puasa: kesabaran.

Allah mengingatkan dalam Al Quran: “Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153).

Ayat ini tidak hanya relevan untuk menghadapi ujian besar dalam hidup, tetapi juga untuk menghadapi situasi-situasi kecil yang menguji kesabaran sehari-hari—termasuk di ruang kelas.

Baca Juga: Dari Tilawah ke Tajalli: Ramadan dan Epifani Ahl Al Quran

Dalam perspektif yang lebih dalam, Ramadhan mengajarkan bahwa dakwah tidak selalu berlangsung di mimbar masjid. Ia juga terjadi di ruang kuliah, di tengah papan tulis, di sela-sela diskusi, bahkan dalam sikap seorang dosen yang tetap sabar dan tulus ketika mahasiswa terlihat kurang antusias. Dakwah bisa hadir dalam bentuk keteladanan: bagaimana seorang pendidik tetap menjaga adab, tetap menjelaskan dengan tenang, dan tetap menyalakan cahaya ilmu meskipun suasana kelas terasa redup.