Rasulullah pernah bersabda: “Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Perisai yang dimaksud bukan hanya melindungi manusia dari dosa, tetapi juga melatihnya untuk mengendalikan emosi. Bagi seorang pendidik, perisai itu bisa berupa kemampuan menahan rasa kecewa ketika kelas tidak berjalan sesuai harapan.
Sering kali kita mengukur keberhasilan mengajar dari respons langsung: banyaknya pertanyaan, hidupnya diskusi, atau antusiasme mahasiswa. Padahal pendidikan tidak selalu bekerja secara instan. Ilmu sering kali menanamkan benih yang tumbuh perlahan. Apa yang tampak sunyi hari ini mungkin akan berbuah pemahaman di masa depan.
Di sinilah letak dimensi sufistik dari pengabdian seorang pendidik. Ia tidak semata-mata mengajar untuk mendapatkan respons atau pengakuan, tetapi karena ia memandang mengajar sebagai amanah. Ketika niat ini tertanam kuat, maka ruang kelas tidak lagi sekadar tempat transfer pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang ibadah.
Baca Juga: Antara Gerak dan Makna: Niat sebagai Nafas Ihsan dalam Ibadah
