JAKARTA, TELISIK.ID - Puluhan smelter nikel milik investor China mulai menghentikan operasional setelah pengetatan RKAB 2026 memicu krisis pasokan ore dan mengancam ribuan tenaga kerja.
Gelombang penutupan smelter nikel berbasis investasi China mulai meluas akibat krisis pasokan bijih nikel (ore) yang dipicu pengetatan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Kondisi tersebut mulai memengaruhi aktivitas industri hilirisasi nikel sekaligus memunculkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan investasi di sektor pertambangan.
Dari sekitar 23 hingga 24 smelter nikel yang beroperasi di Indonesia, sekitar 20 di antaranya merupakan investasi asal China. Salah satu perusahaan yang dilaporkan mulai menghentikan operasinya secara bertahap adalah PT Virtue Dragon Nickel Industry. Pelaku usaha menyebut keterbatasan pasokan bahan baku menjadi tantangan utama dalam menjaga kelangsungan produksi.
Selain menghadapi tekanan akibat berkurangnya pasokan ore, perusahaan juga harus menanggung biaya operasional yang tinggi. Tungku peleburan pada fasilitas pemurnian nikel dirancang beroperasi selama 24 jam secara terus-menerus. Apabila produksi berhenti dan tungku padam, biaya untuk mengaktifkannya kembali dinilai sangat besar.
Baca Juga: Bahlil Warning RKAB 2026 Perusahaan Tambang yang Bandel Tak Mau Pakai B50, Ini Alasannya
