Kalaulah pemerintah NKRI memandang bahwa Kepulauan Buton tidaklah strategis untuk dimekarkan, tampaknya pandangan itu harus dikaji kembali. Kepulauan Buton diapit oleh ALKI II dan ALKI III. Selanjutnya ALKI III A dan III B yang membelah laut Banda.

Baca Juga: Olahraga dan Politik: Piala Dunia FIFA 2026 Panggung Sandiwara Global

Jalur pelayaran internasional dari Pasifik ke Samudera Hindia atau sebaliknya ini sangat berpotensi untuk terjadinya tindak kejahatan pelayaran, seperti: illegal fishing, perdagangan orang, penyelundupan BBM, hingga penyelundupan senjata.

Selain itu, eksistensi Aspal Buton dengan puluhan ribu depositnya tentu merupakan aset strategis bagi ketahanan nasional. Ketangguhan bahari warisan leluhur ini sejatinya adalah instrumen pertahanan negara. Alih-alih menggunakan pengalaman menaklukkan samudra untuk menutup jalur ALKI, kawasan ini justru bersiap menjadi 'Mata dan Telinga' terdepan NKRI.

Masyarakat maritim Kepton tidak hanya akan mengamankan perairan dari ancaman kejahatan transnasional, tetapi juga siap menghidupkan kembali identitas maritim nusantara, yang salah satunya melalui upaya pelestarian dan replikasi budaya kapal tradisional seperti sope dan boti/kali-koli sebagai sentra edukasi dan pariwisata pesisir. Kedaulatan negara akan berlapis kuat apabila masyarakat kepulauan Buton berdaya dan otonom.