Dalam konteks ini Nurcholish Madjid mengatakan bahwa manakala seseorang yang selesai berpuasa tetapi tidak menjadi bertakwa, maka seluruh puasanya sis-sia. Dengan demikian puasa yang bermakna di sisi Allah adalah puasa yang menghasilkan sikap takwa.
Dengan kata lain, puasa yang kita laksanakan manakala tidak menghasilkan sikap takwa maka hampir pasti puasa kita “nihil” atau tidak menghasilkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Dengan demikian, kita perlukan penjelasan secara proporsional, makna dan substansi apa itu takwa dan bagaimana perwujudan dan manifestasinya dalam sikap moral dan sikap praksis kita.
Pertama-tama kita harus memahami indikasi faktual dari definisi takwa. Rujukan kita adalah ayat-ayat awal Surat Al-Baqarah (Q:2: 2-4), yaitu; Pertama; mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk; Kedua, mereka yang percaya kepada yang ghaib; Ketiga, mereka menegakkan shalat; Keempat, mereka mendermakan sebagian harta mereka, dan Kelima, mereka yang yakin akan adanya akhirat.
Baca Juga: Memahani Penghentian Penyidikan dan Bahasa Massa
Itulah rumusan takwa, yakni lima indikatif sikap moral dan muamalah, seperti yang disebutkan di atas.
