Pengertian lain dari pada takwa yang lebih umum adalah ingat kepada Allah. Sehingga berimplikasi dalam sikap spiritual dan sikap lahiriah kita, suatu kesadaran bahwa Allah senantiasa hadir dalam setiap denyut jantung dan tarikan nafas kita.

Disebabkan oleh kesadaran yang mendalam bahwa Allah selalu hadir menyertai pada dimensi ruang dan waktu. Kemudian segala laku fisik dan laku spiritual kita selalu merujuk kepada apa yang diridhoi oleh Allah. Untuk itu, menurut Nurcholish Madjid, takwa itu mempunyai korelasi posistif dengan “akhlaqul karimah” (budi pekerti yang luhur).

Sepektrum takwa meliputi laku iman, yaitu ibadah kepada Allah, percaya yang ghaib, menegakkan shalat  dan  mendermakan sebahagian harta yang kita miliki. Spekturum lainnya adalah laku personal kita, yang terkait  dengan hubungan sosial, atau hubungan sesama manusia dan lingkungan, yaitu akhlaqul karimah.

Baca Juga: Mahasiswa Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Manivestasi sisi spiritual dan manivestasi sisi sosial (muamalah) ibadah puasa, adalah mendorong mengembangkan dan melatenkan sikap takwa. Apabila kita telah menetapkan niat untuk melaksanakan puasa, kemudian menahan lapar dan dahaga, mengendalikan hubungan boilogis dengan istri/suami, mengendalikan amarah dan berkata bohong, serta kita mewujudkan sikap empati kepada dhuafa, anak yatim dan fakir.