Ini menunjukkan reshuffle kemarin nuansanya bukan upaya memperbaiki persoalan ekonomi tetapi memperbaiki permasalahan komunikasi politik dari pemerintah. Harus diakui, malam pasca tabrakan KRL, Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi, memberikan solusi yang tidak tepat, dengan mengusulkan agar gerbong wanita tidak lagi ditempatkan di ujung rangkaian, melainkan di bagian tengah.
Usulan ini tampak sekali Menteri PPA Arifatul tidak mengerti akar permasalahan dari Kereta Api. Wajar akhirnya, ia meminta maaf atas kegaduhan yang ditimbulkan oleh usulannya memindahkan gerbong khusus wanita ke tengah pasca kecelakaan Kerta Api (KA) Stasiun Bekasi Timur.
Persoalan Tabrakan Kereta Api akar permasalahannya adalah manajemen keselamatan yang belum cukup baik diterapkan di negeri ini. Persoalan pelik seperti palang pintu, banyak stasiun yang belum ada, misalnya.
Banyak yang menyoroti bahwa salah satu penyebab kecelakaan KA adalah terkait palang pintu, ternyata pembuatan palang pintu adalah tanggung jawab pemerintah setempat, bukan kewajiban dari Kereta Api Indonesia (KAI), jadi ini terkait perbatasan kerja antara Kementerian Perhubungan (Kemenhub), berkoordinasi dengan kepala daerah, juga dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
Baca Juga: Political Block Ala Nasdem
