"Saya tidak perlu mobil mewah, rumah besar dan jalan-jalan ke seluruh dunia. Saya lebih suka memberikan sedikit apa yang ada di hidup saya untuk kerabat. Aku sangat menghargai apa yang aku miliki," ungkapnya.
Untuk dirinya sendiri ia lebih memilih hidup sederhana. Ia kerap tertangkap kamera membawa handphone yg sudah retak layarnya. Saat ditanya tentang itu, jawabannya mengagetkan. "Aku masih bisa memperbaikinya," dalihnya.
Ia menginsyafi bahwa hidup glamor hanyalah silau dunia yang takkan memberikan perubahan yang berarti. Orang miskin tetap miskin.
Baca juga: Umbu, Jejak Dedikasi dari Malioboro hingga Pulau Dewata
Kemewahan ujungnya adalah kata wah dari manusia. Orang lapar tetap akan lapar, takkan kenyang hanya dengan melihat kemewahannya. Sementara dia tetaplah Mane yang sama, walau dikalungi dan dikelilingi kemewahan-kemewahan itu.
