Filosofi kaum akademisi sangatlah sederhana, bahwasannya “bisa salah, tapi tidak boleh berdusta”. Karena itu, menurut saya, seorang akademisi sekualitas Ubedilah Badrun tentulah sangat mengerti dan memahami makna dari filosofi tersebut, baik secara tersirat maupun secara tersurat.
Sudah lebih dari 25 tahun saya mengenal dan berinteraksi dengan Bung Ubedilah Badrun ini, baik sesama sebagai aktivis gerakan organik, maupun sebagai sesama akademisi.
Dalam interaksi dan bekerjasama sebagai aktivis gerakan mahasiswa organik, yang tergabung dalam organ gerakan mahasiswa “Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jakarta” (FKSMJ), yang berdiri sejak tahun 1994, dan penulis adalah salahsatu inisiator berdirinya FKSMJ ini, dimana FKSMJ ini adalah sebuah organ gerakan mahasiswa yang melakukan perlawanan terhadap Rezim Orde Baru, yang otoriterian dan telah menyimpang dalam menjalankan pemerintahan secara konstitusional.
Baca Juga: Tak Pas Polri di Bawah Kementerian
Puncak dari Gerakan 98 yang menentang rezim Orde Baru adalah pendudukan Gedung DPR/MPR RI yang diawali dan dimotori oleh organ mahsiswa FKSMJ ini yang dimulai pada tanggal 16 Mei 1998, yang kemudian berujung pada lengsernya Prersiden Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998. Dan Bung Ubedilah Badrun adalah salahsatu tokoh yang ada di dalamnya.
