FIFA, yang bertindak seolah-olah sebagai institusi yudisial yang independen, nyatanya tidak lebih dari lembaga birokrasi yang tunduk pada realitas modal dan kekuasaan geopolitik. Penyelundupan hukum melalui Pasal 27 untuk menangguhkan kartu merah Balogun membuktikan bahwa pasal-pasal regulasi olahraga bersifat elastis—ia bisa ditarik dan dilonggarkan demi melayani kepentingan The Old Established Forces (kekuatan mapan dunia).
Baca Juga: Mengintip Jiwa Manusia di Papan Skor: Makna "Gol Bunuh Diri" dan Gol "Tangan Tuhan"
Namun, sejarah selalu punya cara unik untuk menegakkan keadilannya sendiri. Ketika kekuasaan merasa telah memenangkan segalanya, sering kali justru pada saat itulah sejarah menyiapkan koreksinya. Ia bergerak dengan ritmenya sendiri, menghadirkan ironi yang sulit direkayasa dan konsekuensi yang tak selalu dapat dikendalikan. Soekarno selalu percaya pada kekuatan dialektika sejarah, dan di atas rumput hijau, dialektika itu mewujud secara instan.
Meskipun diplomasi meja makan berhasil memaksakan kehadiran Balogun di lapangan, Amerika Serikat tetap dihantam kekalahan telak 1–4 oleh Belgia. Politik dan kekuasaan mungkin bisa mendikte komite disiplin FIFA, tetapi mereka tidak bisa mendikte jalannya bola. Kekalahan memalukan AS adalah sebuah tamparan puitis: kekuasaan bisa memanipulasi aturan, tetapi ia tidak bisa membeli kemenangan.
Kontroversi Piala Dunia 2026 ini harus menjadi momentum untuk mengakhiri romantisasi naif tentang olahraga yang suci dan apolitis. Olahraga dan politik adalah pasangan yang tidak romantis, yang ditakdirkan untuk selalu berbagi ranjang yang sama.
