"Jadi ada lima orang semua. Dua orang bawa pertalite yang disuruh dua pelaku dan ada satu santri yang juga hadir di lokasi yang sempat bantu saya padamkan api," bebernya.
Menurutnya, firinya memang sering dihajar pelaku yang jumlahnya ia tidak ketahui lagi. Penganiayaan itu pertama kali dirasakan pada awal semester.
"Saya ditempeleng dan kepala saya diinjak pelaku. Tidak tahu sudah berapa kali karena sering, sebelum dibakar, saya juga sempat ditendang karena tidak mau hirup bensin (pertalite) itu," jelasnya.
Baca Juga: Polres Kolaka Utara Tangkap Dua Terduga Pelaku Pembakaran Santri
Tempat sama, ayah angkat korban, Alfin meminta aparat mengusut dan menindak tegas para pelaku. pihaknya juga tidak terima pernyataan dari pihak pondok pesantren yang menurutnya bertentangan dengan pengakuan putranya.
