Baca Juga: Janji Manis Mendikdasmen Abdul Mu'ti Luluskan Supriyani Guru PPPK Tak Terbukti

Faktor lainnya termasuk perkawinan beda suku, rasa gengsi terhadap bahasa daerah, serta lingkungan yang kurang mendukung penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.

Cahyo memberikan contoh tentang Bahasa Moronene di Kabupaten Bombana, yang berdasarkan penelitian Pusbanglin Badan Bahasa dan KBST 2021, menunjukkan angka indeks kumulatif 0,54.

Nilai ini menandakan bahwa Bahasa Moronene mengalami kemunduran dan berisiko punah. Selain itu, berdasarkan hasil penelitian KBST 2019, Bahasa Tolaki di Kota Kendari juga berada pada posisi terancam punah, dengan indeks rerata sebesar 0,36.

Bahasa daerah lainnya, seperti Culambacu, Kulisusu, dan Cia-Cia, juga menghadapi nasib serupa, terutama di daerah perkotaan yang semakin heterogen dan kurangnya penutur yang fasih.