Mal-mal ataupun minimarket malah memfasilitasi maksiat tersebut, tidak sedikit dari pedagang yang berlomba-lomba menghias toko dengan pernak-pernik serba pink dan coklat agar menarik perhatian para konsumen. Demi meraup keuntungan lebih, mereka mengesampingkan alasan kerusakan generasi.
Fenomena seperti inilah yang kita saksikan pada generasi millenial era kapitalis. Kehidupan dijalankan atas nama hedon. Kehidupan serba bebas sangat digandrungi anak-anak remaja sekarang.
Pada kenyataannya, tak sedikit generasi muslim sekarang yang justru mengotori akidahnya. Remaja muslim masih dangkal pemikirannya. Pola kehidupan mereka sangat mencontoh budaya-budaya Barat. Mengikuti hawa nafsu dan menabrak aturan ilahi. Atas nama kebebasan berperilaku dan berkespresi mereka justru menggadaikan agamanya dengan kehidupan dunia yang sifatnya fana.
Baca Juga: Membangun Ekosistem Kemitraan UMKM
Biang kerok masalah ini adalah kehidupan sekularisme yang telah menjangkiti negeri muslim. Paham yang menjauhkan manusia dari aturan agamanya, sehingga wajar kiranya kemaksiatan demi kemaksiatan justru membendungi kehidupan. Akibat budaya Valentine’s day munculah kasus hamil di luar nikah, anak zina, aborsi, penyakit kelamin dll.
