Latar waktu film ini berada di era 1990-an, dengan nuansa budaya Jawa yang kental. Warna-warna hangat seperti cokelat, kuning tanah, dan hijau tua mendominasi sinematografi.
Hanung Bramantyo kembali menggunakan pendekatan visual yang cermat seperti dalam karya sebelumnya, Bumi Manusia. Bahasa yang digunakan pun konsisten dalam dialek Jawa ngapak khas Bumiayu, memberikan pengalaman autentik bagi penonton.
Film ini juga memperkenalkan tokoh-tokoh yang mewakili keberagaman ekspresi gender. Liyan, anak angkat laki-laki Nyai Santi yang berpakaian kebaya dan berperilaku kemayu, menjadi simbol kompleksitas identitas dalam budaya Jawa.
Ia bukan karakter pelengkap, tetapi bagian penting dari narasi yang mempertanyakan batasan norma sosial dan gender yang kaku dalam masyarakat tradisional.
Sisi historis film ini juga memuat kisah alternatif asal-usul profesi gowok, yang disebut berakar dari kedatangan Laksamana Cheng Ho ke tanah Jawa. Ia disebut membawa perempuan dari Tiongkok bernama Goo Wook Niang untuk mengajarkan seni bercinta kepada para bangsawan, yang kemudian diadopsi menjadi sistem pendidikan non-formal dalam masyarakat Jawa.
