Tak cuma itu, rasa berutang besar dan bersalah jika tak segera mewujudkan buku tersebut, ketika bemunculan dua wajah, Bharatu Marjohan, anggota Resimen II Kedunghalang Bogo, dan Bharatu Setian Rengga Danang Ratama, anggota Satbrimob Polda Kalteng.
Marjohan dan Setian selalu ceria dan bersemangat mengantarkan penulis ke narasumber-narasumber. Mereka selalu memerlihatkan sikap empati, terkesan ingin buku segera dapat diwujudkan.
Marjohan mengantarkan penulis menelusuri jejak-jejak Brimob, selain di dalam dan pinggiran Kota Semarang, juga sampai ke Pati. Semarang adalah kota bersejarah dalam “Pertempuran 5 Hari” yang pada jejaknya tercium peran besar Mobrig di bawah pimpinan Kompol Suprapto. Ini terjadi setelah di Jakarta Bung Karno-Bung hatta (atas nama Bangsa Indonesia) memproklamasikan Kemerdekaan RI atau awal-awal RI merdeka.
Baca Juga: Nan, Jurnalis yang Menulis Indah itu Telah Berpulang
Selama di Kalteng, Setian mengantarkan sampai ke sudut-sudut ujung Bumi Tambun Bunga. Juga, ke perbatasan Kalteng-Kalsel, antara lain untuk menjumpai Kiyai kharismatik Tuan Guru Danau di Danau Panggang,, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalsel.
