Semua bentuk karya seni yang dapat menggambarkan konten erotis, termasuk lukisan, patung, fotografi, drama, film, musik, atau sastra. Erotisisme memiliki aspirasi seni yang tinggi, membedakannya dari pornografi komersial.

Di sisi lain, pornografi dapat digambarkan sebagai aktivitas kreatif seperti menulis, gambar atau foto, serta film, yang tidak memiliki nilai sastra atau seni selain untuk merangsang hasrat seksual.

Baca Juga: Catat, Ini 3 Tips Bijak Memilih Jurusan Kuliah

Satu-satunya tujuan pornografi adalah untuk menghidupkan penontonnya. Tujuan pornografi bukan untuk membantu penontonnya menghormati keintiman fisik dengan cara apa pun. Satu-satunya tujuan pornografi yakni gairah yang segera dan intens.

Sementara itu, pensiunan psikolog klinis Amerika Serikat, Leon F. Seltzer, dalam artikel pada 2011 mengatakan pandangannya tentang erotika yang membantu orang memahami dengan lebih baik tentang apa yang sebenarnya ingin dikatakan.