Intinya, mereka selektif untuk bercuriga, namun peka sekecil apa pun fenomena kemasyarakatan. Itu semua yang terkait dengan gangguan keamanan dari mulai embrio, proses pembentukan potensi, potensi gangguan keamanan, sampai kepada ketika harus membaca terjadinya suatu peristiwa gangguan keamanan atau kriminal. Tentu saja, substansi sesungguhnya di balik semua objek pengamatan mereka.
Alami saja, sebagai manusia belajar yang memelajari ilmu kepolisian, hukum, dan ilmu-imu sosial lainnya, baik klasikal maupun praktis, mereka juga tahu bahwa kehidupan lebih dahulu ada daripada ilmu. Dengan itu, moral mereka teruji memosisikan “human relations”, baik dalam bingkai kolega, pertemanan, keluarga, maupun persaudaraan. Dengan demikian, sudah seharusnya, semua ada dalam hubungan yang proporsional.
Baca Juga: Wah, Potensi Korupsi IT di Pemerintahan
Sebagai sosok yang demikian dalam sebuah tim, harapan bahwa hasil-hasil kerja tim akan mandiri berpijak pada “scientific criminal investigation”, jelas satu tuntutan yang harus dipenuhi. Sungguh mulia dan keren!
Akan tetapi, patut dipahami pula, bahwa kekuasaan itu mampu memengaruhi timbulnya tekanan. Keberadaan kekuasaan itu dapat bermula dari kelimpahan harta, kekuatan, jabatan atau kekuasaan itu sendiri, juga ilmu.
