Walaupun potensi konflik internal cenderung terbuka, ditengarai Jokowi dan Kaesang akan mengupayakan mayoritas elite dan kader PSI mendukungnya. Jokowi tentu saja akan menunjukkan kehadirannya dapat memberikan manfaat politik dan elektoral lebih besar daripada risikonya, sehingga perbedaan pandangan tersebut kemungkinan akan lebih banyak dikelola sebagai perdebatan internal ketimbang berkembang menjadi konflik terbuka.
Pro dan kontra berpotensi muncul adalah tantangan bagi Jokowi. Jika Jokowi dapat kelola dengan baik maka tidak akan berujung pada perpecahan. Jokowi ditengarai akan menguraikan kesepakatan dan kesepahaman mengenai peran dan batas pengaruh Jokowi di dalam struktur partai.
Meskipun potensi konflik terbuka bisa diredam, tetapi kemungkinan akan kader-kader murni yang kritis dan punya idealis yang menginginkan membangun partai modern, akan lebih memilih sikap untuk pindah ke partai lain, hal yang sama juga dapat terjadi kepada kader-kader rasional yang menilai pengaruh Jokowi tak bermanfaat besar bagi partai.
Baca Juga: Korupsi, MBG, dan Harapan
Kehadiran Jokowi sebagai dewan pembina PSI juga ditengarai tidak langsung membuat PSI mengambil keputusan meninggalkan dukungan kepada Pemerintahan Prabowo Subianto. Dalam jangka pendek, PSI masih bersikap “menunggu dan melihat” dengan menimbang tetap berada pada koalisi pemerintahan Prabowo-Gibran atau akan bersikap tegas dengan memilih berada di luar pemerintahan untuk mengusung Gibran sebagai calon presiden (capres). Pilihan tersebut memungkinkan PSI menunggu hasil safari politik Jokowi untuk mengukur elektabilitas PSI apakah terdongkrak atau ternyata stagnan.
