Cara pelaksanaannya adalah orang tua pihak pria menyiapkan sesuatu barang (biasanya siri/pinang atau daging hewan hasil buruan), kemudian dibungkus dengan daun agel atau seludang mayang pinang yang telah kering, dan diikat dengan tali agel atau yang sejenisnya, lalu disimpul hidup kemudian kedua ujungnya dipintal yang mengundang makna simbolis “ingin menjalin/mempererat hubungan keluarga melalui acara perkawinan".

Mowindahako artinya meminang, cara pelaksanaannya adalah orang tua pria minta bantuan seorang Tolea (juru bicara) untuk pergi ke rumah orang tua pihak wanita, meminang anak dara yang telah menjadi pilihan orang tua pria dan juga telah disetujui oleh anak mereka.

Baca juga: Cerita Anak Kos Jalani Ramadan di Tengah Wabah COVID-19

Mompokontodo artinya memantapkan lamaran pihak pria dengan maksud untuk memperoleh jawaban dari pihak wanita, perihal diterimanya lamaran mereka. Cara pelaksanaannya adalah setelah selang beberapa hari selesainya mowindahako, Tolea bersama Anantolea pergi ke rumah orang tua anak dara dengan membawa niwindahako yang kedua. Niwindahako yang kedua ini dinamakan pokontodo, bahannya sama dengan niwindahako yang pertama.

Mesisiwi adalah cara membujuk anak dara yang telah dilamar, agar menyetujui lamaran yang telah diterima. Mesisiwi dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan oleh orang tua anak dara, dan biasanya pada waktu malam. Yang lebih aktif membujuk anak dara pada acara mesisiwi adalah orang tua dan kerabat pihak pria.