Merujuk teori Collective Effervescence dari Emile Durkheim, pertemuan massal dalam ritual mudik menghasilkan energi kolektif yang memperbarui modal sosial melalui interaksi tatap muka sebuah proses yang tidak digantikan oleh teknologi digital. Bagi masyarakat kepulauan, mudik adalah momentum rekonsiliasi identitas. Perantau yang di kota besar hanya dipandang sebagai angka dalam statistik tenaga kerja, kembali menjadi subjek sosial yang memiliki nama, silsilah, serta peran dalam struktur adat.
Namun, secara objektif menarik gravitasi sosial ini mengungkap fakta pahit ketimpangan demografi. Desa-desa di pulau terluar terus kehilangan sumber daya produktif manusia yang bermigrasi ke pusat pertumbuhan perkotaan sebuah fenomena yang dijelaskan Everett Lee melalui faktor dorong (pushfactor) kemiskinan daerah asal yang belum terselesaikan secara struktural. Transisi ke dimensi ekonomi menunjukkan bahwa mudik merupakan mekanisme redistribusi kapital paling organik untuk melawan sentralisme pembangunan di Indonesia.
Berdasarkan data Bank Indonesia, perputaran uang kartal selama periode Idul fitri mencapai kisaran Rp188 triliun hingga Rp197 triliun, yang menjadi injeksi likuiditas masif bagi daerah periferi. Secara sistematis, pengiriman uang dalam negeri ini menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang seharusnya mampu menghidupkan sektor UMKM di pesisir dan pulau-pulau kecil.
Baca Juga: Jejak Takwa di Senja Ramadan
Namun, tantangan besar muncul di daerah kepulauan berupa biaya logistik yang sangat tinggi. Indeks konektivitas laut Indonesia menurut data UNCTAD masih tertinggal, sehingga mengakibatkan kebocoran ekonomi di mana anggaran mudik perantau justru terserap oleh operator transportasi dan bahan bakar, bukan dibelanjakan di pasar lokal desa. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah solusi melalui transformasi konsep mudik menjadi Wisata Mudik atau pariwisata pulang kampung berbasis potensi bahari.
