Lama kelamaan dengan intensitas kebersamaan yang semakin sering, kenyamanan pun bertahta. Kemudian berpegangan, dan seterusnya, hingga menjadi perselingkuhan basah yaitu hubungan intim.
"Sekitar 20 sampai 30 persen perselingkuhan kering jadi perselingkuhan basah," ujarnya.
Meskipun rata-ratanya perselingkuhan tidak diawali niat untuk berselingkuh. Mereka berdalih bahwa keadaanlah yang menuntut mereka sampai selingkuh.
Perseligkuhan basah ini, lanjut Boyke, akhirnya berujung pada kehamilan yang tidak diinginkan. Ini yang turut menyumbang jumlah aborsi.
Untuk itu, Boyke mengingatkan bahwa perselingkuhan juga bisa menyebabkan penyakit kelamin. Perselingkuhan juga bisa menyebabkan ketidakharmonisan, perceraian, dan kanker serviks. (C)
